Category Archives: Al-qur’an dan Sains

INSPIRASI DAN SOLUSI QUR’ANI TENTANG TEKNOLOGI KOMPOSIT

Sejak zaman dahulu manusia telah berusaha  untuk manciptakan berbagai produk yang terdiri dari gabungan lebih dari satu bahan untuk menghasilkan suatu bahan yang lebih kuat, contohnya penggunaan jerami pendek untuk menguatkan batu bata di Mesir, panah orang Mongolia yang menggabungkan kayu, otot binatang, sutera, dan pedang samurai Jepang yang terdiri dari banyak lapisan oksida besi yang berat dan liat. Seiring dengan kemajuan zaman, untuk mengoptimalkan niap suatu produk maka dimulailah suatu pengembangan terhadap material, dan para ahli mulai menyadari bahwa material tunggal (homogen) memiliki keterbatasan baik dari sisi mengadopsi desain yang dibuat maupun kondisi pasar. Kebanyakan teknologi modern memerlukan  bahan dengan kombinasi sifat-sifat yang luar biasa yang tidak bisa dicapai oleh bahan-bahan lazim seperti logam besi, keramik, dan bahan polimer. Kenyataan  ini adalah benar bagi bahan yang diperlukan untuk penggunaan dalam bidang angkasa lepas, perumahan, perkapalan, kendaraan dan industri pengangkutan. Karena bidang-bidang tersebut membutuhkan density yang rendah, flexural, dan tensile yang tinggi, viskosity yang baik dan hentaman yang baik. Material Komposit (komposit) merupakan gabungan dua material atau lebih yang berbeda sifatnya dan membentuk material baru yang memiliki sifat fisis berbeda dengan material-material pembentuknya.  Komposit merupakan teknologi rekayasa material yang banyak dikembangkan dewasa ini karena material komposit mampu mengabungkan beberapa sifat material yang berbeda karakteristiknya menjadi  sifat  yang  baru  dan  sesuai  dengan  disain  yang  direncanakan. Material komposit memiliki keunggulan yang lebih tinggi dibandingkan material yang lain seperti logam dan polimer sehingga banyak dimanfaatkan sampai saat ini. Tanpa kita sadari bahwa rekayasa teknologi komposit ini sudah tersirat di dalam al-Qur’an surat Al-Kahfi (18): 95-96 yakni:

Zulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain “Tiuplah api itu”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti api), dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Dari ayat di atas tersirat bahwa ketika Zulkarnain membuat sebuah dinding pemisah, beliau tidak cukup dengan menggunakan material logam berupa besi saja, tetapi dengan menggabungkan besi tersebut dengan bahan lain berupa tembaga agar dinding tersebut lebih tangguh dan kuat.

Lewat penuturan Zulkarnain tersebut di atas, kita ketahui bahwa material terkuat sampai akhir zaman berasal dari minimal dua zat/bahan yang berbeda yang diolah sedemikian rupa sehingga saling memperkuat sifat bahan yang satu dengan lainnya. Dalam bahasa modernnya ini dikenal sebagai sebagai composite materials atau material komposit yang sudah dijelaskan di atas.

Teknologi komposit ini sekarang begitu maju  sehingga dari bodi pesawat, satelit, mobil, bahan jembatan, sampai tembok rumah kita pun dibuat dari komposit ini. Andaikan tembok rumah kita hanya berbahan pasir saja maka tentunya akan mudah retak dan bahkan tidak kuat alias ambruk, oleh karenanya pasir itu perlu dicampur dengan semen, gamping dan kadang kerikil batu agar tembok rumah tersebut kuat dan kokoh. gabungan dari berbagai bahan tersebut tidak lain adalah yang disebut dengan komposit yang jelas-jelas memiliki keunggulan yang luar biasa sebagaimana tersirat di dalam Kitab al-Qur’an. Subhanallah….Sungguh al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqoroh (2): 2).

Pertanyaannya adalah sudahkah kita benar-benar kembali ke Al-Qur’an ketika kita butuh petunjuk? Sudahkah kita mencari panduan pemecahan masalah yang kita hadapi di al-Qur’an untuk segala jenis urusan?

Jadi inspirasi dan solusi Al-Qur’an itu real dan ada di sekitar kita, tinggal kita mau menggunakannya atau tidak.

Untuk lebih jelasnya mengenai material komposit, silahkan baca ulasannya di kategori “Teknologi Material”

Semoga bermanfa’at, wallahu a’lam….

 

Presentasi Al-Qur’an dan Sains

silahkan down load ke Link ini

Inspirasi Teknologi Teleportasi dalam al-Qur’an

Teknologi teleportasi sekarang lagi memboming diperbincangkan dan sedang dalam proses uji coba dalam laboratorium. Kalau kita kembali menyimak ayat-ayat qouliyah di dalam kitab suci al-Qur’an yang merupakan basis dari ilmu pengetahuan, maka teknologi teleportasi sebenarnya sudah pernah terjadi pada zaman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Ayat al-Qur’an sebagai inspirasi teknologi teleportasi

Sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an Surat An Naml ayat 38-40:

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

 

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

 

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Dari ayat-ayat di atas dapat kita analisis sebagai berikut:

Pada ayat 38: Nabi Sulaiman memberikan tantangan kepada pembesar-pembesar anak buah Nabi Sulaiman baik dari kalangan jin dan manusia untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis.

Pada ayat 39: Jin Ifrit menyanggupi memindahkan singgasana dengan waktu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.

Pada ayat 40: Kemampuan jin Ifrit dikalahkan oleh seorang yang berilmu (ilmuwan) bernama Asif bin Barkhiya dengan menyanggupi memindahkan singgasana sebelum mata berkedip yang letaknya 2.000 km dari Palestina.

Sekali mata manusia berkedip memerlukan waktu dalam hitungan detik sedang Asif bin Barkhiya menyanggupi sebelum mata berkedip atau kurang dari satu detik. Kecepatan itu hanya mampu ditandingi oleh kecepatan cahaya. Ini adalah isyarat penting bahwa pemindahan singgasana ratu Balqis menggunakan teknologi yang sangat maju disebut teleportasi. Cuma pada waktu itu belum dijelaskan secara detail (secara ilmiah) bagaimana proses teleportasi tersebut, maka teleportasi dalam surat an-naml ini termasuk dalam kategori fiksyen sains.

Dari segi kecepatannya dapat dipastikan teknologi tersebut lebih cepat dari jin Ifrit. Satu-satunya yang mungkin yaitu teknologi dengan memanfaatkan cahaya atau sinar sebagai media untuk teleportasi tersebut. Bisa saja teleportasi dengan sinar laser sudah ada di jaman tersebut sehingga urusan memindahkan singgasana dalam hitungan detik pun hal yang mudah. Kemudian dari ayat di atas bisa dikatakan bahwa teleportasi mampu dicapai oleh manusia tanpa bantuan jin, artinya biasa dibuktikan secara ilmiah. Hal ini nampak seperti mustahil akan tetapi yakinlah bahwa sekiranya Al-Qur’an yang membicarakannya, maka tiada yang mustahil. Penemuan terkini telah membuktikan bahwa suatu hari nanti, manusia mampu memindahkan objek dari satu tempat ke satu tempat lain yang jauh dalam beberapa saat saja. Teknologi ini dinamakan teleportasi.

Banyak orang awam yang mengatakan bahwa kejadian di atas adalah sihir, karena teknologi tinggi bagi orang yang tidak tahu (awam) apalagi tidak menguasai laksana sihir. Untuk membantah pernyataan itu  maka  di dalam Al Qur’an sudah dijelaskan tentang bantahan itu dalam Surat Al Baqarah ayat 102:

102. Dan mereka mengikuti apayang dibaca oleh syaitan-syaitanpada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikatdi negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Asif bin Barkhiya merupakan ilmuwan yang menguasai teknologi teleportasi, bukan ilmu sihir karena sihir selalu menggunakan jin. Sedangkan jin Ifrit yang merupakan jin cerdik pun tidak bisa mengalahkan teknologi itu. Teknologi tinggi bagi orang yang tidak menguasai pun laksana sihir. Seperti di jaman sekarang pun teknologi masih sangat menakjubkan bagi orang awam yang tidak tahu cara kerjanya.

Dari surat an-Naml di atas maka dapat disimpulkan bahwa teknologi teleportasi sudah dikuasai ilmuwan di jaman Nabi Sulaiman AS. Ayat-ayat tersebut juga sebagai inspirasi bagi kita semua untuk membangkitkan kembali teknologi teleportasi yang sudah pernah dilakukan oleh ilmuwan dahulu.

Skip to toolbar